Sabtu, 22 Juni 2013

Cerpen (180 derajat)

habis selesai bikin cerpen, binggung mau diapain. hmm langsung share ke blog ajalah. yang ini bukan tentang percintaan antara 2 makhluk tuhan. hehe tapi cerpen ini bercerita tentang kisah seorang anak dan bapaknya. dan ini cuma fiksi ya, hanya khayalanku aja. hoho. oiya judulnya 180 derajat. pengen tau maksudnya,  yuk cap cus baca cerpennya. semoga menanik. cekidot ..... Selamat Membaca ..... ^^

“Dim, lo dipanggil Pak Jaka tuh.” Panggil Cindy temen sekelas Dimmy.
“Hah, ada apa emang?”
“Gue juga gak tau. Gue Cuma disuruh doang”
“oke, thanks Cin”.
Dimmy adalah siswa kelas 12 IPA 1 di SMA Alrifa. Dia dikenal sebagai siswa teladan dengan paras wajahnya yang tak terlalu jelek bagi seorang wanita umumnya. Dia juga dikenal sebagai seseorang yang baik hati dan suka menolong, tidak sombong pula. Dimmy pun hanya dilahirkan dari keluarga sederhana. Tidak kaya dan tidak miskin. Ayahnya bekerja sebagai karyawan dan Ibunya seorang guru TK.
Dengan penuh rasa penasaran Dimmy melangkahkan kakinya menuju ruang guru. Sampainya disana dia mencari-cari pak
Jaka. Pak Jaka adalah Guru BK SMA Alrifa yang dikenal killer dikalangan SMA Alrifa.
“Bapak manggil saya?” Kata Dimmy dengan nada suaranya yang agak gemetar.
“Oh Dimmy, silakan duduk dulu”
“terimakasih pak, tapi kenapa bapak manggil saya?”
“Begini, soal pendaftaranmu ke 5 universitas terbaik di Asia, dan kamu berhasil masuk disalah satu universitas itu. Kamu mendapat beasiswa sampai lulus ke Seoul University.”
“Hah, yang bener pak. Ini nyata kan pak. Beasiswa . . .aaaaa....!!” Teriak Dimmy dengan nada sangat sangat gembira.
                Sampai dirumah Dimmy langsung menceritakan semua pada ibunya. Mendengar itu ibunya ikut gembira. Ibunya junga langsung menyetujui keinginan anaknya itu. Karena lanjut ke jurusan ekonomi di negri gingseng itu adalah keinginan Dimmy sejak dulu. Alhasil Dimmy pun tambah senang dengan keputusan dari ibunya. Dimmy menuju ke kamarnya dan dia mulai merapikan barang-barang yang akan dia bawa ke korea. Dia mulai menyusun rencana untuk kehidupannya disana kelak. Dia juga mulai mengabari sahabat-sahabatnya tentang keakanpergiannya ke korea. Bagai cinderella yang pergi ke pesta. Mungkin itu gambaran perasaannya saat ini.
Malam mulai datang. Ayah Dimmy pun sampai dirumah dengan wajahnya yang kelihatan capek dan sangat lelah. Saat melihat kepulangan ayahnya itu, Dimmy sudah tak sabar untuk menceritakan tentang  beasiswanya. Begitu antusiasnya Dimmy untuk bercerita.
“Ayah....ayah tau nggak, ada cerita bagus banget lo hari ini.”
“cerita apa? Nanti ya nak ayah capek sekali saat ini.” Kata ayah Dimmy sambil mengelus-elus ramput anaknya. Ya Dimmy itu memang anak semata wayang dan sangat dekat dengan ayahnya dan ayahnya pun sangat memanjakannya.
“aaa, pokoknya ayah harus dengerin ceritaku dulu.” Akhirnya hati ayahnya luluh dan mulai mendengarkan cerita anaknya. Dari A sampai Z, Dimmy bercerita dengan penuh antusias dan kegembiraannya saat itu. Saat itu pula suasana hatinya langsung berubah 1800. Dari yang tadinya sangat-sangat gembira menjadi sangat-sangat sedih dan kecewa. Karena Saat itu ayahnya langsung merespon dengan kata “tidak”. Ya maksud Ayah Dimmy adalah tidak mengizinkannya pergi ke luar negeri. Memang Ayah Dimmy sangat memanjakannya, tapi Beliau juga dikenal sebagai sosok ayah yang sangat berpendirian kuat, sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan, dan beliau sangat menjaga anak semata wayangnya itu.
Hanya dengan kata “tidak” ayah Dimmy langsung beranjak dari tempat duduknya meninggalkan anaknya, Dimmy. Dimmy nggak yakin dengan jawaban ayahnya. Dia mengejar ayahya dan minta penjelasan. Sialnya, Dimmy malah kena marah dan tetap tidak mendapatkan izin. Shock, kaget nggak percaya kalo ayahnya sebegitu marahnya. Dimmy mulai menangis dan lari kekamarnya. Dia benar-benar kecewa dan bagaikan jatuh dari langit. “Ya Allah, kenapa seperti ini.” Rintihan Dimmy disela-sela tangisannya.
Matahari pagi mulai menampakkan dirinya. Tapi Dimmy hanya berdiam dikamarnya dengan mata sembab dan sedikit pucat. Ibunya datang dan menyruhnya makan. Dimmy menolak dan masih dengan posisi menangis.
“Ibu tau kamu sangat kecewa. Tapi kamu harus makan, mungkin kemarin ayah masih capek jadi nggak bisa ngendaliin emosinya.”
“tapi ibu kan tau kalo ayah bilang enggak pasti enggak. Padahal kan ini kesempatan emas ibu. Kalo kayak gini jadinya harusnya ibu kemarin nggak usah ngizinnin aku. Aku kan jadi berharap besar bu.”
“hah, kamu benar ini salah ibu juga. Sekarang makan dulu yuk, nanti ibu bantu bilang sama ayah.”
Dengan berbagai bujukan dari ibunya akhirnya dia mau makan.  Dimeja makan itu hanya terdengar suara sendok. Dimmy lagi marah sama ayahnya jadi tak berkata stu katapun. Saat Dimmy mulai menyantap satu sendok makannya, tiba-tiba ayahnya berkata, “Kamu tetap di Indonesia.” Begitu mendengar itu Dimmy lari ke kamarnya lagi dan ibunya langsung menyela perkataan suaminya. “Ayah...dia itu baru mau makan, lupakan itu dulu kenapa.” Ayah dan Ibu Dimmy berbicang panjang lebar dan sedikit ada pertengkaran sampai ayah Dimmy  meninggalkan rumah untuk pergi kerja. Tak sengaja pertengkaran tadi terdengar Dimmy. Dimmy sedih mendengar itu semua. Dia mengurung diri seharian dikamarnya sampai-sampai dia  bolos sekolah karena memang dia lagi nggak enak badan.
“Ayah pulang.” Terdengar suara kepulangan ayahnya sore itu. Tapi tak ada sapaan dari Dimmy dan istrinya saat itu. Karena mereka bertiga lagi dalam posisi marahan.
Setelah selesai mandi, Ayah Dimmy menuju ruang keluarga untuk nonton tv dan menyegarkan pikirannya. Tiba-tiba terdengar suara pintu dari kamar Dimmy. Ya Dimmy keluar dari kamarnya dan menghampiri ayahnya. Dimmy duduk disamping ayahnya. Setengah jam berlalu dan mereka berdua tetap dalam posisi diam. Akhirnya percakapanpun dimulai dari dimmy. “Ayah....” hanya dengusan yang didegar Dimmy. Tiga kali Dimmy memanggil ayahnya dan respon ayahnya tetap sama. “Ayah, Dimmy mau ngomong sama ayah. Gara-gara Dimmy, Ayah dan Ibu jadi nggak akur. Dimmy minta maaf yah.Dimmy.....” kata-kata Dimmy tehenti sejenak dan melanjutkannya lagi dengan agak ragu dan terbata-bata. “Dimmy udah m-u-t-u-s-in, kalo Dimmy mau nurutin perkataan ayah. Dimmy mutusin untuk ngelepas beasiswa itu,  Dimmy nggak mau kualat gara-gara nggak nurut kata orang tua.” Ayah Dimmy tetap diam, tak ada respon sama sekali walaupun Dimmy sudah memanggil-manggilnya. Lau akhirnya Ayah Dimmy angkat bicara.
“Kamu yakin dengan keputusanmu. Bukannya kuliah disana adalah impianmu?”
“Memang kuliah di seoul university itu adalah cita-cita dan mimpiku yah. Tapi mau gimana lagi, semua akan jadi sia-sia kalo nggak dapet restu dari orang tua. Selain itu Dimmy nggak mau kualat.”
“Kamu yakin, nggak nyesel? ikhlas mau nurut perkataan Ayah?”
“nyesel ya pasti yah. Tapi Dimmy ikhlas kok yah, tapi sekarang ayah harus baikan sama ibu.”
“loh ikhlas kok pakai tapi?”
“tapi Dimmy tu beneran ikhlas dan Dimmy mau Ayah baikan sama Ibu.”
Tiba-tiba ibu Dimmy datang dan bilang kalo mereka sebenarnya udah baikan. Dimmy senang mendengar itu, walauun hatinya masih sedih karena melepa cita-cita yang sudah didepan mata. Namun dia lebih gembira karena orang tuanya telah akur lagi. Bereka bertiga bercanda lagi seperti biasa dan tiba-tiba raut muka Ayah Dimmy menjadi sangat serius.
“Dimmy, sebenarnya ayah sudah memikirkan ini dari semalem. Seoul University adalah cita-citamu bukan?
“udah dong yah, Dimmy nggak mau bahas itu lagi.”
“enggak, Ayh Cuma mau bilang kalo ayah nggak mau diangga ayah yang menghalangi cita-cita anaknya.”
“maksud ayah?”
“iya, ayah ngizinin kamu kuliah di negara itu.”
                                                                                      ^_^

1 komentar:

  1. titanium muzzle brake 2.12.0 APK - TITanium-ART.com
    Description; micro touch hair trimmer Material; Weight; Projectile (Pulse Width; Depth; ion titanium hair color Surface; Depth; Height; can titanium rings be resized Depth; Surface; womens titanium wedding bands Depth; titanium charge Color; Weight; Surface; Length; Size

    BalasHapus