Cerpen (3M=Materi Membawa Malapetaka)
Messy mulai merapikan tempat tidunya yang berantakan. Dia segera mandi dan bergegas berangkat sekolah. Sedangkan Mesya masih molor karena kerjaannya yang slalu pulang malam.
“Sya bangun, lo mau berangkat nggak sih! Udah pagi lho, buruan bangun dong!” Bujuk Messy sambil menarik selimut dari tubuhnya.
“Lo bisa diem gak sih, gue masih ngantuk tau. Kalo lo mau berangkat ya berangkat aja.” Bentak Mesya.
Mesya dan Messy adalah saudara kembar dari pasangan pengusaha terkaya di Indonesia. Ayah mereka punya cabang toko buku yang tersebar di Indonesia. Sedangkan Bundanya adalah seorang dokter gigi, yang telah punya klinik sendiri. Mesya dan Messy sendiri adalah seorang pelajar SMA kelas 2. Walaupun kembar, mereka punya karakter yang sangat berbeda. Mesya punya karakter anak yang manja dan pemarah, sedangkan Messy sendiri dia lebih mandiri dan bisa memanfaatkan waktu.
Duduklah Messy dimeja makan rumahnya bersama ayah dan bundanya. Tapi batang hidung Mesya belum muncul juga saat itu.
“Mesya mana sy? Kok belum turun.” Tanya ayahnya.
“Emm, lagi mandi yah tadi.” Kata Mesya yang kepaksa bohong. Karena sebenernya Mesya sendiri masih terbaring ditempat tidurnya alias masih tidur.
“Mandi kok lama banget, ya udah biar bunda yang keatas.” Usul bundanya.
“jangan bun, biar Messy aja yang panggil dia.” Kata Messy.
Naiklah Messy ke kamar untuk membangunkan Mesya, ternyata Mesyapun masih saja tidur.
“Sya lo mau berangkat nggak, ditunggu tuh sama ayah dan bunda.” Kata Messy.
“Hah, udah ditunggu? Emang ini jam berapa sih?”
“Uda jam tujuh kurang 15 menit Mesya.”
“Apa? Lo bilang deh sama bunda, suruh duluan aja. Gue berangkat sendiri gitu.” Kata Mesya sambil bergegas ke kamar mandi.
Messy pun turun ke meja makan, dan cari alasan agar Mesya nggak kena marah. Messy pun berangkat sendiri dengan naik angkutan umum seperti hari-hari biasanya. Ayah dan bundanya juga sudah berangkat. Tetapi Mesya masih saja ribet cari-cari peralatan sekolahnya, padahal jam sudah menunjukan pukul tujuh.
Tepat Pukul tujuh Messy telah duduk dikelasnya. Seperti biasa dia duduk bersandingan dengan sahabatnya, Delvi. Mereka berdua telah bersahabat sejak masuk di SMA tersebut. Di sekolah itu Messy dikenal sebagai sosok yang pandai dan baik hati.
“Sy, lo udah ngerjain PRnya Bu Asri belum?” Tanya Delvi.
“Yang logaritma itu kan? Udah nih.”
“Hehe, tau aja kalo gue mau pinjem.”
Bu Asri yang dikenal guru paling killer itu pun masuk ke kelas Messy. Kebetulan jam pertama adalah pelajarannya Bu Asri. Hal pertama yang dilakukan guru itu dikelas adalah presentasi. Ketika nama Mesya dipanggil, tiada anak yang mengacungkan jari. “Mesya.....Mesya, dimana dia?” Kata Bu Asri dengan suara khasnya yang keras.
Tok tok tok. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. “Silakan masuk.” kata Bu Asri yang mempersilakan masuk. Orang itu masuk kelas dengan ekspresi muka yang ketakutan. Karena bukan kali ini aja dia telat melainkan sudah beberapa kali.
“Kau terlambat lagi Mesya! Berdiri kamu didepan kelas!” Perintah Bu Asri. Teman-teman sekelas pun menyoraki Mesya, kecuali Messy, saudara kembarnya. Walaupun Mesya selalu jahat padanya, tapi dia tak pernah sekalipun jahat padanya.
Bel istirahat telah berbunyi, Messy nampak menuju keruang osis. Messy adalah ketua osis sekolah itu. karena jabatannya itu saudara kembarnya selalu iri padanya. Tak heranlah jika dia nggak bisa ngefriend sama Messy. Ditambah Messy uda jadian sama Gilang, cowok terkeren sekaligus wakil ketua osis sekolah itu yang difans sama Mesya sejak dulu.
Mesya dan teman-teman gengnya yang ada 3 orang itu melihat Messy dan Gilang berduaan diruang osis. Makin panas aja hati Mesya.
“Sya liat tuh Saudara lo, ganjen banget sih!” Kata Dina, teman segengnya.
“Emang, harusnya kan gue yang jadi miliknya. Kenapa dia sih? Padahal kan cantikan gue kemana-mana ya.” Kata Mesya yang memuji dirinya sendiri.
“Huuu, kalo sama dia cantikan lo, tapi kalo lo sama gue ya jelas cantikan gue dong.” Kata Gladis, temen segengnya yang pede abis.
“ahh, gitu juga boleh lah. Keburu berjenggot kalo ngeladenin lo.” Kata Mesya pada Gladis sambil ketawa.
***
Teng...teng....teng, bel pulang sekolahpun berbunyi. Dengan tergesa-gesa Messy segera meninggalkan sekolahnya. Tapi tiba-tiba Gilang nyamperin dia dan ngajak pulang bareng.
“Messy, pulang bareng gue yuk.” Ajak Gilang pada pacarnya itu.
“Sory banget lang, nggak bisa. Hari ini aku ada siaran. Lain kali aja ya, buru-buru nih. Bye Gilang.”
Messy pun langsung meninggalkan Gilang dan menuju ke halte bus dekat sekolahnya. Bus baru dateng setelah sekitar 15 menit Messy nunggu. Bus yang dia naiki itupun sangat penuh sesak. Bubaran anak sekolah dan anak kuliahan memenuhi bus itu.
Sekitar limabelas menit dia sulit bernafas, akhirnya sekarang Messy bisa bernafas bebas setelah turun dari bus itu. Segera dia memasuki studio siarannya dan menggantikan temannya untuk siaran.
“Sory gik, gue telat. Abis tadi busnya lama banget.” Kata Messy pada ogik, teman siarannya.
“Lo tu anak orang kaya, fasilitas buat lo juga udah lengkap, tapi kemana-mana malah pake angkutan umum. Emang aneh lo sy. Ya uda buruan gih siap-siap siaran, lagunya udah mau abis nih.” Kata Ogik yang mengingatkan Messy.
“Yang kaya kan bokap gue, gue mah gak punya apa-apa.” Kata Messy yang memuji dirinya sendiri.
***
Messy dan Mesya sebenernya nggak nyaman kalau dirumah. Itu karena kedua orang tuanya yang super-super sibuk dan hampir tak pernah ada waktu buat mereka. Jadinya ya mereka mencari kegiatan lain biar nggak suntuk kalo dirumah. Messy dan Mesya slalu pulang malem. messy sendiri menghabiskan waktunya dengan kegiatan yang manfaat. Sedangkan Mesya hanya jalan-jalan, nongkrong, dan ngabisin duit aja. Apalagi kalau udah gabung sama ketiga temennya itu, Gladis, Dina, Anggit.
Ketika sepulang sekolah Mesya dan ketiga temannya lagi jalan di mall. Berbagai pernak-pernik, baju, apa ajalah mereka beli. Setiap ngliat barang yang bagus mereka langsung beli. Tak lihat harga pula.
“Dis, ini keren gak buat gue?” kata Mesya pada Gladis sambil ngepasin baju itu pada tubuhnya.
“bagus, cocok sama tubuhmu kok sya.” Kata Gladis.
Selesai belanja, mereka langsung ganti baju dan dandan secantik mungkin buat nongkrong di cafe langganan mereka. Kegiatan-kegiatan seperti itu yang Mesya lakukan dengan temen-temennya.
***
Messy segera keluar dari studio dan mencari halte bus terdekat. Tak lama kemudian bus itu datang, dan Messy langsung naik. Hanya ada beberapa penumpang aja yang ada di bus itu. Messy pun langsung duduk dikursi dekat pintu berdampingan dengan seorang pemuda yang kira-kira berumur dua tahun diatasnya. Pemuda itu mengajak ngobrol Messy. Ngajak kenalan, tanya-tanya keluarga, pemuda itu juga menawarkan pada dirinya untuk mengikuti organisasi yang pemuda itu ikuti saat ini.
“Dek, anda berminat untuk berorganisasi ngak?” kata pemuda itu.
“Organisasi apa ya mas?”
“Ini adalah organisasi penegak islam. Jadi kalau kamu ikut dalam organisasi ini kamu akan dituntun hafalan Al-Quran,berbahasa arab, pokoknya semua yang berhubungan dengan islam gitu lah. Nggak nyesel lah kalo kamu ikut organisasi ini. Gimana dek berminat?” Jelas pemuda itu.
“Biaya masuknya berapa?” Tanya Messy yang sepertinya mulai tertarik dengan organisasi itu.
“Kalo untuk masuknya kita nggak dibebankan biaya sepersenpun. Kalo tertarik langsung dateng aja ke pusatnya. Ini alamat kantornya.” Kata pemuda itu sambil menyerahkan kartu nama.
“Oke, trimakasih ya mas. Permisi saya turun dulu.” Kata Messy.
Sampainya dirumah dia sama sekali tidak senang. Karena hanya ada pembantu dirumahnya, ayahnya ke luar kota, bundanya nglembur di kliniknya, sedangkan Mesya entah kemana. “Ya Tuhan, lama-lama kayak kuburan deh ini rumah.” Batin Messy yang merenungi kesendiriannya. Saking capeknya Messy langsung ke kamar dan membersihkan dirinya. Ketika dia membuka-buka bukunya, tiba-tiba handphonenya bunyi. Entah siapa yang menelfonnya malam-malam seperti ini.
“Hallo sayang, lagi apa kamu?”
“Bunda kapan pulangnya? Aku lagi belajar bun. Buruan pulang dong bun.”
“Maaf sayang, malam ini bunda ada pasien opname, jadi bunda nggak pulang deh. Mungkin besuk sore bunda pulangnya, sekalian jemput ayahmu dibandara. Mesya mana sy? Kok Hpnya nggak aktif?”
“Ha, Mesya? Mesya...Mesya lagi tidur bun, Hpnya tu mati bun.” Kata Messy sambil cari-cari alasan.
“Oh, ya salam buat Mesya aja lah. Ya udah, dilanjutin gih belajarnya.”
Percakapan mereka hanya sampai disitu. Messy mulai merenungi dirinya. Dia berfikir kenapa keluarganya selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Sambil merenungi dirinya itu, Messy malah ketiduran.
***
Jam beker kamar Messy membangunkan tidurnya. Ketika terbangun dia nggak ngliat Mesya ada di tempat tidurnya. Pikirnya pasti Mesya tidur dirumah temennya. Karena hari ini adalah hari minggu. Dihari Minggu itu dia tak tau harus nglakuin kegiatan apa. Karena rumahnya begitu sepi. Tapi kemudian dia teringat akan pemuda bus kemarin sore. Segera dia mencari-cari kartu nama yang pemuda itu kasih kemaren. Seluruh isi tas dia keluarkan, buku-buku dia obrak abrik hanya untuk mencari kartu nama itu. Setelah dia membuka tas depan yang dia pakai kemarin, dia nemuin kartu itu, “Nah ini dia alamatnya.” Bergegas dia mandi dan dandan serapi mungkin.
Seperti biasa dia pergi dengan angkutan umum. Setiap orang dia tanyai untuk mencari alamat itu. tapi tiada satupun yang tau. Setelah menelusuri jalan setapak , dia melihat spanduk yang namanya sama dengan kartu nama itu. “Nah ini dia tempatnya.” Tanpa ada keraguan Messy masuk ketempat itu. Kemudian dia tanya-tanya pada orang disitu. Orang itupun menjelaskan secara terperinci. Tanpa berfikir panjang dia langsung menyetujuinya dan resmilah dia mengikuti organisasi itu.
“Sekarang anda telah resmi menjadi anggota kami. Anda harus menuruti perkataan kami. Jika anda menolak maka anda akan kami bunuh.” Ancam orang itu.
Messy kaget atas ancaman itu. Namun entah kenapa Messy malah mengangguk dan seperti orang tak sadar. Setelah itu dibawalah dia pada ketua organisasi itu. ternyata organisasi itu mempunyai presiden dan mentri-mentrinya. Bisa dibilang seperti sebuah negara. Disana Messy langsung dibekali dengan ajaran agama islam. Messy pun tak diizinkan untuk ketemu keluarganya. Dia Cuma bisa menulis surat buat keluarganya. Dia pun dikarantina disana dan harus menuruti apa yang diperintahkan.
***
Sore itu ayah dan bunda dari saudara kembar itu telah sampai dirumah. Tiada yang menyambut disana. Hanya seorang pembantu yang menyambutnya.
“Anak-anak kemana mbak?” Kata Bunda Mesya dan Messy pada pembantunya.
“Kalau Neng Messy katanya mau ketempat temen Nyonya. Tapi kalau Neng Mesya dari tadi malam belum pulang tu Nyah.” Kata pembantunya itu.
“Apa belum pulang? Kemana dia.”
“Kurang tau Nyah, permisi Nyah saya kebelakang dulu.”
Ting tong...ting tong, sekitar pukul sepuluh malam bel pintu berbunyi. Setelah pembantu itu membukakan pintu, masuklah Mesya dan mendapati ayah dan bundanya duduk di sofa depan. Mesya pun kaget karena orang tuanya telah pulang. Mesya pun dimarahi habis-habisan. Tetapi malah terjadi pertengkaran antara Mesya dan orangtuanya. Mesya pun ngambek dan pergi ke kamarnya karena capek atas perlakuan orang tuanya.
Sampai pagi hari tiba Messy belum juga terlihat dirumahnya. Seluruh penghuni rumah pun khawatir dengannya. Kecuali Mesya yang terlihat biasa saja. Mesya pun tetap berangkat sekolah dengan santai tanpa dibebani oleh hilangnya saudara kembarnya itu. Bundanya mondar-mandir kesana kemari karena khawatir pada Messy. Tiba-tiba pembantunya dateng dan memberikan selembar kertas.
“Nyonya, ini ada surat.” Kata pembantunya.
“Makasih ya mbak.”
Dengan segera bundanya langsung membuka surat itu. setelah dibaca ternyata surat itu dari Messy. Yang meminta agar orang tuanya nggak usah kawatir padanya dan tak usah mencarinya karena dia baik-baik saja. Walaupun dia mengatakan seperti itu, tetap saja ayah dan bundanya khawatir. Mereka pun melaporkannya pada polisi.
“Yah, gimana kalo Messy ternyata diculik oleh NII itu? sekarang kan lagi heboh tu NII. Gimana dong ini yah.” Kata ibunya yang sangat khawatir itu.
“Berdoa aja bun, jangan berpikir yang buruk-buruk. Lagian kan polisi lagi usaha nyari.” Kata ayah Mesya dan Messy itu dengan nada menenangkan istrinya.
Mesya sendiri malah santai disekolahnya. Setiap ditanya guru dan temen-temennya tentang Messy jawabannya malah nggak tau. Ketika itu dia ketemu sama pacarnya Messy.
“Sya, Messy kemana kok nggak kelihatan?”Tanya Gilang.
“Nggak bosen apa ya, dari tadi pada tanya Messy Messy terus. Gue nggak tau di dimana? Dari kemaren dia ngilang. Puas lo!” Jawab Mesya dengan nada membentak.
“Apa ngilang? Kok bisa?” Kata Gilang dengan ekspresi kaget dan panik.
“Ya mana gue tau. Gue kan bukan Tuhan. Aneh lo! Sama aja kayak pacarmu.” Kata Mesya yang semakin kesal karena dari tadi yang ditanya hanya Messy mlulu.
***
Hari-hari semakin berlalu dan kini telah sekitar satu bulan Messy ngilang. Orang tuanya bingung harus nyari dia kemana lagi. Sampai-sampai bundanya sakit karena anaknya nggak ketemu. Mesya yang dulu nggak peduli atas hilangnya saudara kembarnya itu, kini mulai peduli. Karena dia sadar kalau ternyata saudaranya itu sangat berarti buatnya.
“Bunda, dimakan dong buburnya. Messy pasti pulang kok.” Hibur Mesya pada bundanya.
“Bunda nggak mau makan sebelum Messy pulang. Bunda kangen sama dia sya.” Kata bundanya sambil menagis.
“Iya bunda, Mesya juga kangen sama Messy. Kita semua kangen dan khawatir bun, tapi bunda harus makan dong biar bunda sembuh.”
Satu bulan pencarian ternyata tetap tak membuahkan hasil. Polisi pun mulai nyerah buat nyari Messy. Tapi keluarga, sahabat dan pacar tetep berusaha mencarinya.
Pagi itu seluruh keluarga, sahabat dan pacar Messy berkumpul dirumahnya. Mereka membicarakan tentang hilangnya Messy. Tiba-tiba saja bel rumah berbunyi. Mereka berharap itu adalah polisi dan membawa kabar gembira. Setelah pintu dibuka ternyata Messylah yang berdiri didepan pintu dengan wajah tanpa ekspresi dan sangat tidak bersemangat.
“Nyonya, Tuan, Neng Mesya...Ada..ada..Neng Messsssssssy.” Teriak pembantunya dengan nada suaranya yang tersendat-sendat.
Seluruh orang yang ada dirumah itupun kaget tak percaya. Mereka pun berlarian keluar untuk memastikan omongan pembantunya. Sampai diluar mereka semua ternganga kaget tak percaya.
“Messy...itu kamu?” Kata bundanya sambil berlari memeluk putrinya itu.
“Bunda, maafin aku, selama ini aku dibawah asuhan NII. Aku ditipu bun sama mereka.” Kata Messy sambil menjelaskan kejadian yang dia alami.
“Apa? Jadi apa yang bunda duga selama ini benar. Ya Tuhan, kasihan nasib putriku ini. Mungkin ini juga karena kesalahan bunda yang slalu sibuk dengan pekerjaan bunda. Bunda minta maaf ya putri-putriku.” Kata bunda pada Mesya dan Messy sambil memeluk mereka.
Mereka sekeluarga saling bermaaf-maafan. Tak terkeculi saudara kembar Messy sendiri. “Sy gue minta maaf, kalo selama ini gue slalu kasar sama lo. Dibalik itu semua gue sayang kok sama lo.” Kata Mesya sambil memeluk Messy.
“Iya sya, gue juga minta maaf. Gue juga sayang kok sama lo.” Kata Messy.
Saat kembalinya Messy ke rumah, dia diberlakukan layaknya putri dirumah itu. Messy pun sangat senang, karena seluruh keluarganya bisa kumpul. Ditambah pula dengan kedatangan Gilang kekasihnya dan Delvi sahabatnya. Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan bagi Messy dan juga Mesya. Karena hari itu ayah dan bunda mereka bisa sadar bahwa kasih sayang lebih penting daripada materi.
***
created: Silviana Wulandari

0 komentar:
Posting Komentar